*** Selamat Datang DI WEBSITE KUMPULAN CERITA 18+ DENGAN SENSASI MENARIK *** NIKMATI CERITA DEWASA TERBARU & TERUPDATE SETIAP HARINYA DENGAN SENSASI KENIKMATAN TAK TERTAHANKAN!!! ***

Cerita Sex Melihat Tubuh Molek Pembantu Seksi

Cerita Sex Melihat Tubuh Molek Pembantu Seksi. Saat itu hari Minggu siang, aku sedang santai membaca Novel John Perkins mengenai the Convession of Economic Hitman, kemudian aku mendengar suara mobil istriku berhenti didepan garasi. Suaranya yang nyaring itu, terdengar saat ia memanggil pembatuku guna membuka pintu garasi. Aku melongokkan kepalaku kearah garasi saat dia masuk dengan membawa kantung belanjaan.

Cerita Sex Melihat Tubuh Molek Pembantu Seksi

“Rina, masukkan belanjaan ini ke kulkas segera ya..” perintahnya untuk pembantuku. Jesica atau biasas dipanggil ''ica'' ialah pembantuku satu-satunya, sesudah kemarin Fadilah mohon ijin berhenti karena mau dinikahkan oleh kedua orang tuanya.. Tidak lama Fadilah keluar, istriku datang menghampiriku yang sedang santai membaca dan nonton berita di TV.. “Pa ini pembantu baru kita, gantiin si Fadilah, aku baru ambil dari yayasan di Depok. Namanya Jesica pa,” jelas istriku.

Perkenalan di Ruang Tamu (Pandangan Pertama)

Dari belakang ia berjalan dengan kepala tertunduk si pembantu baru ini. Tampak tubuhnya lumayan tinggi, dengan wajah, penampilan yang mencerminkan gadis dari desa dan bentuk tubuh yang cukup bagus. Perhatianku dibuatnya berhenti ke arah buah dadanya itu yang terlihat sangat besar dan gagah. Jika masalah buah dada, aku memang tidak bisa menahan diri, jika melihat buah dada yang menantang seperti itu. Wah enak nih kalau dapat meremas, memlintir dan mengulum buah dada seperti ini, pikirku..

“Umurnya 20 pa, tapi dia sudah berpengalaman dan pernah jadi TKW ke Arab,” jelas istriku. “Ini bapak ya Ica, kamu mesthi layani Bapak dengan baik ya..” “Iya bu, saya bakal lakukan,” jawabnya seraya tetap menundukkan kepala, sehingga membuatku leluasa mengamati tonjolan buah dadanya yang bulat itu sambil mengkhayal. “Ya sudah sana,” kataku, “kamu bantu-bantu Rina di belakang. Yang terpenting kamu kerja yang baik.”

“Iya pak, terima kasih telah memperkenankan saya boleh kerja disini..” sahutnya sambil membalikkan badan dan berjalan kearah dapur. Sempat aku perhatikan bentuk tubuhnya yang montok dari belakang, ternyata dia punya pantat yang cukup bundaar dan sekal, paha dan betisnya yang kecil sangat bagus bentuknya walau kulitnya agak gelap. Ini jenis body yang sangat membangunkan gairah nafsu birahiku. Tak terasa si ucok sudah mulai bangun dan menggeliat saat membayangkan pembantu baruku tanpa sehelai benang ditubuhnya.. Aaaargghh….!!!

Ruang Kerja​​​​ Part I (Senjata Pemungkas)

Pekerjaanku menjadi konsultan lepas untuk sejumlah perusahaan membuatku lebih sering berada dirumah, dan termasuk mengerjakan pekerjaan perusahaan segala sesuatunya dirumah. Aku keluar rumah saat ada klien atau partner yang harus di jumpai, selebihnya aku lebih senang menghabiskan waktuku bermain bersama anak-anaku. Keseharianku setelah mengantar anak-anakku kesekolah, aku kembali kerumah dan kembali mengerjakan tugas-tugasku.

Aku sedang diruang kerjaku mencatat analisa mengenai perusahaan telekomunikasi A, merupakan kompetitor dari klien utamaku, saat Siti melewatiku dengan memegang peralatan pembersih, “Permisi pak, saya ingin bersihin kamar dan kamar mandi Bapak..” jelasnya lirih sambil berjalan menundukkan kepalanya. Kupandangi wajahnya yang masih tetap menunduk, an lantas turun kedadanya yang membusung, padat dan menantang.

“Kamu usia berapa sih sekarang Ica?” tanyaku seraya tetap memandangi buah dadanya. “Saya jalan 21 tahun pak, tahun ini,” jawabnya seraya masih tetap menundukkan kepalanya. “Kamu dah kawin ya,” tebakku seraya bersuara agak tegas, walau ngakunya masih gadis. “Jangan bohong kamu sama saya ya..” tegasku. Dia kian menundukkan kepalanya sambil menjawab dengan suara pelan,“Sudah pak, tapi mohon untuk tidak bilang ke ibu ya pak, saya sangat perlu kerjaan ini pak. Saya perlu uang untuk dapat membeli susu anak saya pak..” “Ya sudah, sana.. Tapi kerja yang baik-baik dan jangan membantah perintah ya, terutama dari saya..

Tolong bersihkan klosetnya dan gosok yang bersih, ya Ica..” kataku, sambil terus menatap dadanya yang nampak semakin menantang hari ini, dibalut kaus oblong putih yang agak ketat itu.. “Makasih pak, saya bakal nurut perintah bapak, tapi tolong untuk tidak bilang ke ibu ya pak..” pintanya lirih. He….he…he.. ada kartu truf ni untuk muasin si ucok yang sudah tegak.. Baik untuk hari ini kamu aku biarkan lolos dari incaranku, seraya mulai memikirkan teknik untuk dapat merasakan tubuhnya, khususnya dadanya sang sangat tegak, padat dan sekal itu..

Ruang Kerja​​​​ Part II (Kenikmata Sesaat)

Pagi itu aku sedang melanjutkan mengetik kerjaan semalam didepan komputer, saat Siti lewat untuk membersihkan kamarku.. Hemmhh.. Masiih dengan kaus yang agak ketat, dadanya tampak sangat membusung dan menggairahkan.. “maaf pak mau bersihkan kamar dan kamar mandi bapak..” pintanya seraya masih menunduk.. “Ya silahkan,” jawabku seraya tak lepas menatap buah dadanya yang indah..

Aku melanjutkan pekerjaanku seraya memikirkan bagaimana untuk menikmati buah dada pembantu baruku ini.. Ketika kudengar dia sedang membersihkan kamar mandiku, aku tinggalkan kerjaan dan bangkit menyusul masuk ke kamar mandi.. “Ica saya minta tolong potongi bulu rambut yang terdapat ditelingaku ini ya.. Hati-hati jangan sampai luka..” pintaku. Dengan perlahan dan hati-hati dia mulai memotongi rambut di telingaku, dan dengan sengaja kuangkat sikuku, sambil berpura-pura meringis kesakitan, sampai menyentuh tonjolan didadanya..

Dia agak mundur sedikit, tapi tidak jerah sikuku kembali memburu buah dada yang kesat itu. Wah masih padat dan kenyal, sehingga si ucok kembali beraksi,..Ketika kusuruh dia pindah kekuping kiriku, kini dengan telapak tanganku kananku kusentuh, kutekan, dan mulai kuremasi buah dada yang sudah jauh hari menghantuiku.. Dia menjauhkan tubuhnya dan berhenti mencukur rambut kupingku.. “Paakk, tidak boleh pak..”pintanya lemah.. Tapi aku segera menariknya kembali “Ayo, lanjutkan mencukurnya!!!” Dengan takut-takut dia melanjutkan kegiatannya perlahan, dan kembali aku menjulurkan telapak tanganku untuk meremas dadanya.

Meski dia berjuang dan menghindar tapi aku semakin berusaha untuk memasukkan tanganku kedalam kaus ketatnya, dan akhirnya berhasil kutaklukkan buah dadanya yang terlindung di balik kaos ketatnya. “Pakk, jangan pakk.. berhenti pak, nanti saya dimarahin ibu pakk…”pintanya lirih sambil berusaha kabur dan keluar kamar mandi.. Karena takut dia berteriak, akhirnya ku biarkan di kabur.. Uhh… ini buah dada paling kenyal dan besar yang pernah kunikmati… Awas kamu nanti Ica, janjiku pada diriku sendiri dalam hati.. Aku harus bisa menikmati kembali buah dadanya lebih dan lebihhh…..

To Be Continued ...

No comments